Nama Saya Helvy, Murid Pak Muhyidin

January 14th, 2007 by ghotoen
Sumber : http://helvytr.multiply.com/tag/guru

Nama Saya Helvy, Murid Pak Muhyidin

Jan 4, ‘07 11:16 PM
for everyone

“Banyak orang yang
pintar bicara, tapi tak bisa menulis. Banyak pula orang yang lancar menulis
tapi gagap dalam berbicara. Bapak ingin suatu ketika kamu menjadi orang yang
menguasai keduanya dan bisa menularkan kemampuanmu pada orang lain.”

.

Saya
mendengar kalimat tersebut 20 tahun lalu dari Pak Muhyidin, guru Bahasa
Indonesia kami di SMA Negeri 5 Jakarta, dan masih selalu mengingatnya hingga
hari ini.


         Saya
gemar pelajaran Bahasa Indonesia. Apalagi
gayamengajar Pak Muhyidin kreatif interaktif.
Meski pelajarannya kadang tak dianggap penting, Pak Muhyidin tetap bersemangat
terus menggali minat dan bakat kami.

“Suatu ketika saya akan menjadi penulis. Saya
akan menulis banyak buku!”

Teman-teman
dan guru-guru lain hanya tertawa mendengar tekad saya, kecuali satu orang: Pak
Muhyidin. Ia terus memperhatikan dan mengembangkan kemampuan berbahasa saya, terutama dalam menulis dan
berbicara. Ia sering meminjamkan buku-buku yang menarik. “Membaca membuat mata cakrawalamu menyala. Bacalah semua, bukan hanya
buku, tetapi juga semesta! Setelah itu, tuliskan asa dan rasamu.  Itulah permata dalam hidupmu!”
katanya
bersemangat. Ia selalu memberi saya nilai A+ di buku latihan mengarang, disertai
tulisan: “Kembangkan bakatmu! Jangan berhenti menulis dan kau akan menjadi!”
Beliau mendorong saya mengelola majalah dinding sekolah serta menulis di koran
dan majalah.

Dua puluh tahun pun berlalu. Kini saya
sudah menulis lebih dari 35 buku. Saya aktif keliling
kota 
di
Indonesia,
masuk desa hingga hutan sebagai relawan yang mengajak dan mengajar orang
membaca dan menulis. Saya mengisi pelatihan menulis sampai ke
Malaysia, Singapura, BruneiThailand
, Jepang, Mesir hingga
Amerika Serikat. Saya ke
Hong Kong, melatih
para TKW Indonesia yang semuanya pembantu rumah tangga untuk menulis. Beberapa
di antara mereka kini sudah menjadi penulis betulan. Saya dan beberapa teman
mendirikan Forum Lingkar Pena, sebuah LSM yang senantiasa berupaya membidani
kelahiran penulis baru. Kini FLP telah ada di 125
kota
di
Indonesia
dan mancanegara. Berkat kerjasama dengan lebih dari 5000 teman-di
organisasi itu
tentunya, kini ratusan di antara mereka telah menjadi penulis, dan
sekitar 500 buku terbit dalam sewindu keberadaan FLP! Bersama
teman-teman
saya mendirikan Rumah Cahaya di berbagai
kota di Indonesia.
Rumah Cahaya (Rumah baCA dan HAsilkan karYA) adalah tempat untuk para dhuafa
dan kalangan umum membaca dan berlatih menulis dengan gratis.  Saya pun dipercaya sebagai salah satu anggota
Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (2003-2006) dan Anggota Majelis Sastra
Asia Tenggara (sejak 2006). Di luar itu kini saya adalah Dosen Bahasa dan
Sastra Indonesia di Universitas Negeri
Jakarta.

Saya
menerima banyak penghargaan nasional atas apa yang saya lakukan, mulai dari Wanita
Inspirasi, Wanita Berprestasi, Ibu Teladan hingga Tokoh Perbukuan Nasional. Namun
apakah akan ada saya yang sekarang tanpa guru-guru luar biasa, terutama Pak Muhyidin? Guru yang menemukan minat
dan bakat muridnya serta berusaha menggalinya tanpa pernah mencela. Guru
sederhana yang memberi saya “permata” namun pergi mengajar dengan berganti bis
beberapa kali untuk sampai ke sekolah, hingga hari ini? Guru yang memotivasi
saya untuk terus melangkah, dan yakin akan apa yang bisa saya lakukan bagi diri
saya dan orang lain?

“Apa
tidak salah Bapak memberi saya nilai A+? Bukankah bagi murid cukup A, dan A+
milik guru?” tanya saya suatu hari.

Beliau
menggeleng. “Itu murni nilaimu. Ingat,
terus menulis! Kalau kelak sudah berhasil, bantu orang lain untuk sepertimu
,”
suara Pak Muhyidin masih terdengar di telinga saya hingga hari ini. Wajahnya
tulus. Tangannya mendekap koran dan majalah yang memuat tulisan saya, menatapnya
dengan mata kaca berbinar yang tak mungkin saya lupakan, meski telah 20 tahun
berlalu…..

 

*Tulisan
ini menjadi salah satu pemenang dalam
Lomba Menulis “Terimakasih Guru” Grow dan
Depdiknas, Desember 2006. Saya persembahkan untuk guru saya; Pak Muhyidin.

SMAN 5 juara Futsal Pelajar

January 14th, 2007 by ghotoen

   

 

 

 

 

 

       

SMAN 5 juara Futsal Pelajar

sumber : http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=28435&ik=7
Senin 25 Desember 2006, Jam: 18:55:00
JAKARTA (Pos Kota) – SMAN 1 Budi Utomo Jakpus gagal menjuarai turnamen
futsal antarpelajar ‘Bangkit Boedoet’ yang diikuti 16 tim dari 10 SMA
Jakarta.

Dalam partai final Sabtu sore (23/12), SMAN 1 ditundukkan SMAN 5 dengan skor 3-1.

SMAN 5 yang sering disebut ‘Ghotoen,’ memang tampil ciamik. Para
pemainnya memiliki kualitas teknik merata. Operan maupun penempatan
bolanya terarah. SMAN 1 dan SMAN 5 lolos ke final setelah masing-masing
menghempaskan SMAN 27 dengan skor 2-0 dan SMAN 21 dengan skor 3-2.

Dua gol berhasil disarangkan SMAN 5 ke gawang Boedoet di babak
pertama. Saat turun minum, hujan mulai turun namun tidak menurunkan
tempo permainan.

Hanya saja jadi kurang berkembang karena acap kali pemain terjatuh karena licinnya lapangan.

Tim ‘Ghotoen’ berhasil menambah satu gol lewat sebuah tendangan
keras Yesa dari tengah lapangan, Boedoet berhasil memperkecil
ketinggalan menjadi 3-1.

Dalam sambutannya menutup turnamen itu, Drs Abdullah Tiahara, wakil
kepala sekolah SMAN 1 bidang kesiswaan menegaskan bahwa apa yang
dipentaskan para anak didiknya adalah sebuah awal kebangkitan era
Boedoet di bidang olahraga.

“Kami berharap tahun depan bisa menghadirkan kualitas turnamen yang lebih baik lagi,” ujarnya.

Upaya menghapus stereotip sekolah biang tawuran dipertontonkan
siswa SMA N 1 Jakarta lewat acara doa seusai pertandingan sambil
bergandeng tangan dengan sang lawan di tengah lapangan dengan membentuk
lingkaran. Sebuah makna lain akan fairplay.

(aby)